Aku menatap diriku di cermin, masih sama dengan gambar yang sama. Kedewasaan pun sepertinya belum terlalu melekat dalam wajahku. Kutelusuri lebih dalam lagi, catatan-catatan kaki yang ku buat. Kalimat-kalimat yang kucukil dari film, buku, nasehat dari saudara.. Aku masih saja sama, tak banyak  berubah. Masih banyak yang harus kupelajari dalam hidup. Harus lebih banyak berguru lagi. Menyadari diri untuk lebih melatih diri.

Aku, masih saja berfikir tentang kamu, tentang caramu, tentang sikap dan banyak hal tentangmu. Namun, sekarang aku merasakan beda. Aku tak lagi memiliki keinginan untuk bersamamu sebanyak dulu. Aku ingin lebih menerima. Ya, penerimaan yang baik. Penerimaan bahwa tak semua yang kuingini harus kumiliki. Penerimaan yang membuat ku lebih menyibukkan diri. Penerimaan yang semestinya ada dari dulu.

Allah, aku hanya memiliki sebentuk hati, yah satu hati. Aku mengembalikan hati ini Allah, untuk Kau jaga dan simpan. Allah, aku tak lagi mampu membedakan rasa apakah ini, kagumkah, sayangkah, atau pesona semata. Allah, Engkaulah Maha Pemilik Hati ini, Berikan aku kekuatan, keyakinan untuk menghadapi semua ini. Allah, aku menyadari semua atas kehendakMu.

Allah, terima lah hati ini. Hanya Engkau lah Sang Maha Pembolak balik Hati ini. Aku menyakinya, hanya Engkau lah yang Maha Penolong dan Pemberi Jawab atas setiap segala resah yang ada di hatiku ini.


Assalamualaikum,
Met Idul Adha yah. Mohon maaf lahir bathin.


Maaf Lahir bathin



Darwis Tere Liye dalam FB 17/10/2013


*Misteri Indah

Mau jadi apapun kita kelak, mau diisi apapun hidup ini, apapun pilihan kita, maka penting sekali memahami nasehat lama ini: barang siapa yang memulai perjalanan, lantas tekun dan teguh atas perjalanan tersebut, maka insya Allah, dia akan tiba di ujung perjalanan.

Kita mau jadi penulis misalnya, maka mulailah perjalanan menjadi penulis tersebut. Tekun. Teguh. Maka insya Allah kita akan tiba di ujung perjalanan, sebagai penulis--dengan definisi terbaiknya, suka menulis. Tidak akan tertukar tiba2 jadi pemain bola atau penyanyi. Kita mau jadi seorang guru, maka mulailah perjalanan menjadi guru. Tekun. Teguh. Maka, mau bagaimanapun keterbatasan kita, insya Allah kita akan tetap jadi seorang guru. Bahkan tanpa pendidikan formal sekalipun, jika dimulai perjalanannya, kita tetap bisa jadi guru yang dicintai murid dan mencintai murid2nya.

Mau jadi pemain bola, pengusaha, astronot, dokter, insinyur, apapun itu, selalu dimulai dengan awal perjalanan. Ada yang direncanakan dengan baik, ada yang 'kecelakaan' saja. Ada yang disuruh orang lain (orang tua), ada yang hanya iseng, coba2, tapi mau bagaimanapun desain awalnya, sekali dimulai perjalanan tersebut, terus berada di jalannya, tidak belok2, maka persis seperti sebuah bus yang menuju tujuan tertentu, insya Allah, kita akan tiba. Mogok. Pecah ban, kehabisan bensin, apapun masalahnya, sepanjang terus maju, akhirnya sampai juga.

Maka, mulailah sadarilah hakikat sederhana ini. Karena nasehat ini, juga jelas punya sisi tajam yang mengkhawatirkan. Apa itu? Bagi orang2 yang memulai perjalanan jadi 'pengangguran', maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan pengangguran tersebut. Bagi orang2 yang memulai perjalanan kemalasan, banyak mengeluh, maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan kemalasan tersebut. Dan barang siapa yang tetap di situ2 saja, tidak memulai sesuatu, merasa nyaman atau tidak peduli, menyia2kan waktu, maka dia akan tetap berada di jalan itu. Jalan di tempat.

Esok lusa adalah misteri indah dari Tuhan. Disimpan rapat-rapat, tiada yang tahu. Tapi kita bisa menyambutnya dengan baik jauh2 hari. Pilihlah jalan yang hendak kita tempuh, lantas mulailah perjalanan panjang tersebut. Ingat selalu, namanya juga perjalanan, maka pasti ada saja hal2 menyebalkan yang kita temui. Masalah2 teknis, hingga masalah2 serius yang kadang membuat kita berbelok, mengganti tujuan, pun termasuk balik lagi, batal. Dengan ketekunan, keteguhan, musafir mana pun akan tetap berada di jalan yang telah dia pilih, melewatinya dengan tulus, melewatinya dengan riang, maka insya Allah tiba di ujungnya.

Tiba di misteri indah milik Tuhan.



 HEhehehe.... Bangun pagi itu langsung ucap Alhamdulillah.. Atas nikmat hidup, iman yang tetap melekat dalam raga kita.

Alhamdulillah, itu termasuk doa kan yak?? Doa syukur qta, bahwa Allah SWT masih memberikan kita nikmat.

Doa.. Permintaan.. Permohonan adalah hakikat bahwa kita sebagai mahluk tiada memiliki daya apapun atas seizinNya. Manusia wajib berusaha maksimal, setelah itu memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah.. untuk memberi kan yang terbaik

Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a” (HR Turmudzi dan Hakim)

Jangan pernah berputus asa untuk berdo’a. Do’a yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah do’a yang terdapat dalam surat Al Furqon ayat 74 : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa