Menyukai November, yahhh.. Aku telah jatuh hati pada bulan ini. N.O.V.E.M.B.E.R, like it. Entah sejak kapan, 2010 kah atau 2011, 2012 atau bahkan di tahun ini. Semua terasa istimewa.

Mengulang Tahun 2012 long trip on November. Tahun ini berkunjung kembali Ujung Pandang, Bali, Gorontalo, Bone Bolango,

Subhanallah, diingatkan lagi tentang Shalat Fardhu yang tidak boleh ditunda-tunda.... 

Copas from http://muslimah.or.id/fikih/hukum-menunda-shalat-bagi-wanita.html

Banyak dalil yang menganjurkan untuk shalat di awal waktu, dan ini adalah amalan yang paling utama. Karena hal itu termasuk bersegera dalam kebaikan. Masuk dalam firman Allah Ta’ala:

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS. Al Mu’minun: 61)
dan juga firman-Nya:
وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan” (QS. Fathir: 35)
kecuali shalat Isya, karena shalat Isya itu lebih afdhal ditunda jika memang mudah melakukannya, demikian juga lebih afdhal menunda shalat zhuhur ketika hari sedang panas-panasnya.
Maka hendaknya para wanita menyegerakan shalat, lebih lagi jika ia khawatir akan datang haid. Adapun jika waktu shalat sudah datang dalam keadaan ia suci (belum haid), kemudian datang haid sebelum sempat shalat maka shalat tersebut masih menjadi bebannya sampai ia suci.
Misalnya ketika matahari sudah mulai bergerak dari posisi tegak lurus, yaitu sudah masuk waktu zhuhur, jika ia haid sebelum sempat shalat maka ia wajib meng-qadha-nya ketika sudah suci. Demikian juga jika matahari terbenam dan ia hadi sebelum sempat shalat maghrib, maka beban untuk shalat maghrib masih ada dan ia wajib meng-qadha setelah suci dari haid.


Kau kah itu??
Pemilik Hatiku, yang telah membuat aku 
Merasakan terjatuh dan Mencoba bangun
Untuk Mencinta

Saat hati ini resah, Engkau kah itu
Yang mampu membuatku tenang
Memampukan aku untuk bangkit lagi

Kau kah itu???
Yang mampu mengubah sedihku jadi tawa

Kau kah itu?? 
Yang mampu mengarahkan ku 
Yang bisa kuaminkan dalam doa panjangmu



Kau kah itu??
Ooohhhhh... Aku sungguh kangen 

Di mana kah kau berada 
Aku lelah..
Dan sungguh payah
Aku tak ingin menunggu lebih lama lagi
Aku ingin segera bertemu

Kau kah itu??
Penghias mimpi-mimpiku 
Penghantar doa-doa panjangku
Menemukanmu dalam kepayahan
Bersama dalam Kesetiaan??


Kau kah itu??
Aku tak mampu menangkap isyarat mu
Aku lemah.. 





Tlah kuterima maafmu.. Tapi, ahhhhh... maaf buat apa
Salah pun kurasa kamu tidak
...Tak banyak mauku aku hanya ingin kamu...
Sehat, tersenyum, bahagia, hormat sama keluarga dan ISTIQOMAH




Saat ini aku ingin diam
Sungguh aku ingin kamu tau aku diam
Tanpa melawan, mengikuti arusmu
Aku ingin memberimu ruang untuk "mu" sendiri
Berkaca pada hati "mu"
Melihat mimpi, hidup, dan nyata
Tunggu, bukan mimpi bukan 
Tapi lebih ke harapan, asa, cita
Aku ingin kamu tau apa yang kau cari
Aku ingin kamu tau apa yang harus kau perjuangkan

Karena Aku hanya ingin membantumu
.....Melanjutkan hidup.....
Bukan semakin membayangimu


 Pesanku.. Apa bisa kau jujur dengan dirimu sendiri, 
berdamai dengan waktu. dannn boom! 
Percaya, dengar kata hatimu

Aku menatap diriku di cermin, masih sama dengan gambar yang sama. Kedewasaan pun sepertinya belum terlalu melekat dalam wajahku. Kutelusuri lebih dalam lagi, catatan-catatan kaki yang ku buat. Kalimat-kalimat yang kucukil dari film, buku, nasehat dari saudara.. Aku masih saja sama, tak banyak  berubah. Masih banyak yang harus kupelajari dalam hidup. Harus lebih banyak berguru lagi. Menyadari diri untuk lebih melatih diri.

Aku, masih saja berfikir tentang kamu, tentang caramu, tentang sikap dan banyak hal tentangmu. Namun, sekarang aku merasakan beda. Aku tak lagi memiliki keinginan untuk bersamamu sebanyak dulu. Aku ingin lebih menerima. Ya, penerimaan yang baik. Penerimaan bahwa tak semua yang kuingini harus kumiliki. Penerimaan yang membuat ku lebih menyibukkan diri. Penerimaan yang semestinya ada dari dulu.

Allah, aku hanya memiliki sebentuk hati, yah satu hati. Aku mengembalikan hati ini Allah, untuk Kau jaga dan simpan. Allah, aku tak lagi mampu membedakan rasa apakah ini, kagumkah, sayangkah, atau pesona semata. Allah, Engkaulah Maha Pemilik Hati ini, Berikan aku kekuatan, keyakinan untuk menghadapi semua ini. Allah, aku menyadari semua atas kehendakMu.

Allah, terima lah hati ini. Hanya Engkau lah Sang Maha Pembolak balik Hati ini. Aku menyakinya, hanya Engkau lah yang Maha Penolong dan Pemberi Jawab atas setiap segala resah yang ada di hatiku ini.


Assalamualaikum,
Met Idul Adha yah. Mohon maaf lahir bathin.


Maaf Lahir bathin



Darwis Tere Liye dalam FB 17/10/2013


*Misteri Indah

Mau jadi apapun kita kelak, mau diisi apapun hidup ini, apapun pilihan kita, maka penting sekali memahami nasehat lama ini: barang siapa yang memulai perjalanan, lantas tekun dan teguh atas perjalanan tersebut, maka insya Allah, dia akan tiba di ujung perjalanan.

Kita mau jadi penulis misalnya, maka mulailah perjalanan menjadi penulis tersebut. Tekun. Teguh. Maka insya Allah kita akan tiba di ujung perjalanan, sebagai penulis--dengan definisi terbaiknya, suka menulis. Tidak akan tertukar tiba2 jadi pemain bola atau penyanyi. Kita mau jadi seorang guru, maka mulailah perjalanan menjadi guru. Tekun. Teguh. Maka, mau bagaimanapun keterbatasan kita, insya Allah kita akan tetap jadi seorang guru. Bahkan tanpa pendidikan formal sekalipun, jika dimulai perjalanannya, kita tetap bisa jadi guru yang dicintai murid dan mencintai murid2nya.

Mau jadi pemain bola, pengusaha, astronot, dokter, insinyur, apapun itu, selalu dimulai dengan awal perjalanan. Ada yang direncanakan dengan baik, ada yang 'kecelakaan' saja. Ada yang disuruh orang lain (orang tua), ada yang hanya iseng, coba2, tapi mau bagaimanapun desain awalnya, sekali dimulai perjalanan tersebut, terus berada di jalannya, tidak belok2, maka persis seperti sebuah bus yang menuju tujuan tertentu, insya Allah, kita akan tiba. Mogok. Pecah ban, kehabisan bensin, apapun masalahnya, sepanjang terus maju, akhirnya sampai juga.

Maka, mulailah sadarilah hakikat sederhana ini. Karena nasehat ini, juga jelas punya sisi tajam yang mengkhawatirkan. Apa itu? Bagi orang2 yang memulai perjalanan jadi 'pengangguran', maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan pengangguran tersebut. Bagi orang2 yang memulai perjalanan kemalasan, banyak mengeluh, maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan kemalasan tersebut. Dan barang siapa yang tetap di situ2 saja, tidak memulai sesuatu, merasa nyaman atau tidak peduli, menyia2kan waktu, maka dia akan tetap berada di jalan itu. Jalan di tempat.

Esok lusa adalah misteri indah dari Tuhan. Disimpan rapat-rapat, tiada yang tahu. Tapi kita bisa menyambutnya dengan baik jauh2 hari. Pilihlah jalan yang hendak kita tempuh, lantas mulailah perjalanan panjang tersebut. Ingat selalu, namanya juga perjalanan, maka pasti ada saja hal2 menyebalkan yang kita temui. Masalah2 teknis, hingga masalah2 serius yang kadang membuat kita berbelok, mengganti tujuan, pun termasuk balik lagi, batal. Dengan ketekunan, keteguhan, musafir mana pun akan tetap berada di jalan yang telah dia pilih, melewatinya dengan tulus, melewatinya dengan riang, maka insya Allah tiba di ujungnya.

Tiba di misteri indah milik Tuhan.